Perlunya Tenaga Penyuluh Energi

394

ibra1Jakarta – Saat ini untuk bisa mencukupi kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri Indonesia harus melakukan impor. Hal ini terjadi akibat produksi minyak bumi Indonesia yang tidak lagi sebanding dengan tingkat konsumsi BBM yang terus mengalami kenaikan dari tahun ketahun.

Sebagai bahan bakar yang tidak terbarukan (non renewable) sudah barang tentu keberadaan energi jenis minyak bumi akan mengalami penurunan perannya dalam energymix nasional. Langkah kongkrit untuk menggantikannya pun harus segera direalisasikan sebagai sumber energi alternatif dimasa mendatang.

Terkait dengan energi alternatif lokal sebetulnya banyak ditemukan diberbagai daerah di Indonesia. Namun, karena ketidaktahuan masyarakat mengenai bahan bakar alternatif itu telah menjadi kendala utama belum berkembangnya  hingga saat ini. Oleh karena itu, adanya “Penyuluh Energi” menjadi sesuatu yang sangat penting.

Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Dr. Ibrahim Hasyim mengatakan, penyuluh energi ini harus ada ditengah-tengah masyarakat untuk mengedukasi masyarakat dalam memilih, mamakai dan mengembangkan energi lokal biomasa yang tersedia banyak disekelilingnya.

“Apabila penyuluhan bisa dilakukan akan sangat membantu.  Saat ini masyarakat di daerah-daerah tertentu ada yang tidak tahu bahwa di daerahnya ada biogas yang bisa dijadikan sebagai sumber energi alternatif. Mereka juga tidak tahu seperti apa cara membuat dan menggunakannya,” jelas Ibrahim, belum lama ini di Jakarta.

Ibrahim menambahkan, dengan adanya Penyuluh Energi di daerah-daerah akhirnya masyarakat dapat mengetahui ternyata banyak sumber energi alternatif lain yang dapat dipergunakan. Kalau sudah begini tentu BBM yang saat ini masih menjadi sumber energi utama tidak perlu di sediakan di tiap titik di seluruh Indonesia.

“Di Amerika yang produksi minyak luar biasa besarnya, tapi masih ada negara-negara bagian tertentu yang menggunakan energi alternatif seperti energi matahari, angin dan tetap terus dikembangkan. Jadi kita pun harus ada seperti itu. Sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM di Indonesia,” pungkas Ibrahim.

Diakui Ibrahim, saat ini memang sebagian besar masyarakat masih menggunakan energi fosil. Dengan produksi migas yang hanya sekitar 800.000 barel per hari dinilai sangat sulit membangun kemandirian energi. Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam rangka membangun kemandirian energi, diantaranya menurunkan ketergantungan kepada impor energi, menurunkan penggunaan energi fosil, dan menyehatkan penggunaan energi.