Audit Forensik Petral Group Telah Tuntas

1163

pso2014Jakarta — Audit Forensik terhadap Petral  Group  yang dilaksanakan oleh auditor independen dibawah supervisi oleh Satuan Pengawas Internal PT Pertamina (Persero) menemukan adanya inefisiensi dalam kegiatan operasional Petral Group.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan memperkuat transparansi pengadaan minyak mentah dan produk minyak yang selalu menjadi pertanyaan publik, dan sekaligus tahapan penting dari proses likuidasi Petral Group, beberapa tahapan telah dilalui.

Menurut dia, terdapat tiga kegiatan terpenting yang sudah dan sedang dilakukan, yaitu due diligentterhadap financial and tax yang dilakukan oleh EY, dan legal oleh HSF, audit foreksik yang dilakukan oleh auditor independen KordaMentha di bawah supervisi Satuan Pengawas Internal Pertamina, serta wind-down processberupa novasi kontrak, settlement utang piutang, dan pemindahan aset kepada Pertamina.

“Beberapa kegiatan tersebut masih berlangsung, due diligent akan tuntas pada akhir bulan November ini sedangkan wind-down process akan berakhir pada Desember 2015. Adapun, audit foreksik telah tuntas akhir bulan lalu dan kami sampaikan hasilnya kepada publik secara terbuka setelah melaporkannya terlebih dahulu kepada pemerintah selaku pemegang saham,” kata Dwi dalam konferensi pers.

Audit Forensik yang dilaksanakan pada 1 Juli hingga 30 Oktober 2015 tersebut menemukan beberapa hal penting yang sekaligus dapat menjadi referensi untuk perbaikan sistem baru pengadaan minyak dan produk di masa mendatang oleh Integrated Supply Chain.

Beberapa temuan tersebut meliputi inefisiensi rantai suplai meningkatkan risiko mahalnya harga crude dan produk, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor meliputi, kebijakan Petral dalam proses pengadaan, pengaturan tender MOGAS, kelemahan Pengendalian HPS, kebocoran informasi tender, dan pengaruh pihak eksternal.

Selain itu, ditemukan bahwa  Petral sangat memiliki ketergantungan pada satu penyedia jasa Marine Service dan Inspektor, dan potensi risiko piutang tak tertagih karena tidak adanya credit limit bagi counterparties.

“Laporan temuan-temuan ini telah kami laporkan kepada pemerintah untuk mengambil langkah lanjutan apabila diperlukan. Laporan hasil audit ini juga dapat menjadi dasar bagi langkah-langkah perbaikan kebijakan, khususnya dalam proses pengadaan minyak mentah dan produk di masa mendatang,” urai Dwi.

Dwi juga mengungkapkan likuidasi secara formal akan dapat dilaksanakan setelah seluruh proses tersebut tuntas. Menurut dia, untuk Petral dan Zambesi, likuidasi diperkirakan akan tuntas pada akhir Januari 2016, sedangkan PES akan tuntas pada akhir Maret 2016.

Selanjutnya, tutur Dwi, Pertamina berkomitmen untuk terus melakukan perkuatan fungsi ISC. Tahapan penting yang sudah dilakukan untuk perkuatan tersebut adalah menaikkan kembali level jabatan untuk pimpinan ISC dari Vice President menjadi Senior Vice President.

“Untuk perkuatan ISC kami bersyukur telah terus menunjukkan tren positif, di mana dapat dilihat dari peserta tender yang semakin variatif, harga lebih kompetitif, bargaining position semakin tinggi, dan menghasilkan efisiensi sebesar US$103 juta sampai dengan Q3 2015,” tutup Dwi.