Harga BBM Murah, Energi Alternatif Sulit Berkembang

454

ibra3Jakarta – Saat ini disparitas harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan non subsidi cukup tinggi, terlebih dengan adanya perubahan nilai tukar rupiah terhadap US$. Hal ini menjadi salah satu penyebab masih terjadi penyalahgunaan terutama di daerah-daerah yang berdekatan dengan pertambangan, perkebunan dan juga industri.

Untuk meminimalisir penyalahgunaan dan membengkaknya beban subsidi negara yang mencapai lebih dari Rp. 200 triliun ini, maka tidak heran banyak kalangan mendorong pemerintah untuk segera menaikan harga BBM subsidi.

Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim mengungkapkan pun terjadi kenaikan harga BBM bersubsidi jangan hanya dilihat untuk mengurangi konsumsi, tetapi harus dilihat bahwa kenaikan harga itu sebagai upaya pengembangan energi alternatif lain yang saat ini belum bisa dikembangkan karena BBM murah.

“Dengan menaikan harga BBM subsidi maka harga energi seperti bahan bakar gas dan energi lainya menjadi ekonomis, hidup dan berkembang.  Selagi harga BBM murah maka sulit energi alternatif untuk berkembang,” kata Ibrahim, Senin (13/10) di Jakarta.

Oleh karena itu, lanjut Ibrahim kalau memang ada rencana menaikan harga BBM, kenaikanya harus signifikan, jangan hanya semata-mata untuk memperbaiki postur anggaran. Ada yang lebih penting lagi, yaitu untuk mendorong energi alternatif lain yang memang dibutuhkan dalam rangka mengejar target energi mix nasional.

“Jadi sekali ini fokus kenaikan harga BBM lebih ditujukan untuk pengembangan energi non BBM,” tandasnya.

Diakui Ibrahim, kenaikan harga BBM pasti akan memiliki dampak dan ini selalu dibahas dan menjadi perhatian pemerintah. Tapi jangan persoalan ini terus mengemuka akhirnya permasalahan subsidi BBM tidak pernah terselesaikan. “Ketahanan energi kedepan menjadi sesuatu hal yang sangat penting seperti halnya ketahanan pangan,” jelas Ibrahim.