Ibrahim Hasyim: Strategi Harga Jadi Keberhasilan Pengembangan Infrastruktur Energi Alternatif

    1035

    ibra1JAKARTA. Penggunaan gas bumi saat ini mulai menggembirakan karena sudah naik ke sekitar 53% dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Untuk terus meningkatkan penggunaannya tentu harus didukung dengan pengembangan infrastruktur dan perluasan pemanfaatanya.

    “Mempelajari keberhasilan pengembangan energi di banyak negara kuncinya adalah pada strategi harga, yaitu suatu tingkat harga gas yang menarik buat investor untuk mengembangkan infrastruktur dan menarik pula buat konsumen karena wajar. Titik itulah yang kita cari, sehingga pengembangan energli alternatif seperti gas bumi itu bisa berhasil. Kalau pemerintah saja yang membangun infrastruktur tentu akan lama karena keterbatasan anggaran , tapi kalau swasta diberi peran dan menarik pasti dia akan masuk,” kata Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Dr. Ibrahim Hasyim, Rabu (26/03/2014) di Jakarta.

    Sekarang infrastruktur pipa dari Sumatera Selatan yang merupakan pusat gas sampai ke Jawa sudah tersedia. Bahkan sekarang sedang menyambung dari Kalimantan ke Jawa (pipa kalija1). Dalam rencana juga dari Gresik ke Semarang. Jadi tidak perlu lagi khawatir tidak ada pasokan gas. Ini tentu perlu juga didukung penggunaanya oleh masyarakat luas terutama industri, jangan saja asik menggunakan BBM padahal sudah ada energi alternatif lain.

    “Dulu orang berpikir kalau membangun infrastruktur gas nanti pasokan gasnya dari mana. Sekarang tidak perlu ragu karena pemerintah sudah memberikan alokasi. Kepastian itu sudah ada tinggal bagaimana infrastruktur itu, tidak hanya pipa transmisi, tapi juga pipa distribusi dan fasilitas pengisian seperti SPBG,” pungkasnya.

    Saat ini, tutur Ibrahim, pemerintah telah mendorong BUMN dan swasta untuk pengembangan infrastruktur jaringan pipa distribusi yang lokasi pembangunannya pada 10 titik yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi dan akan terus dibangun di tahun-tahun mendatang untuk kepentingan rumah tangga.

    “Hal ini diharapkan bisa menyelesaikan satu persoalan sebagian kebutuhan energi untuk rumah tangga yang sebelumnya menggunakan minyak tanah kemudian konversi ke LPG dan selanjutnya dalam jangka panjang beralih ke gas bumi yang lebih banyak tersedia. Semakin banyak pipa distribusi yang dikembangkan akan mempercepat penggunaan gas,” katanya.

    Sebelumnya penggunaan gas memang belum begitu masif. Salah satu kendalanya adalah kerena infrastruktur. Produksi gas yang jauh dari lokasi konsumsi tentu menjadi kendala manakala pipa gasnya tidak tersedia karena membawa ke lokasi konsumsi tidak sama seperti membawa BBM. “BBM bisa diangkut dengan kapal sementara gas pada waktu itu hanya bisa diangkut dengan pipa, jadi harus dibangun infrastruktur untuk mendekati konsumen dan itu butuh waktu. Sekarang memang sudah terbangun tapi belum seluruhnya,” ungkap Ibrahim Hasyim.