Kilang Dumai Rencanakan Gunakan Gas Sebagai Bahan Bakar

1314

Diskusi-di-Kilang-DumaiJakarta — Untuk meningkatkan efisiensi, Kilang minyak milik Pertamina di Dumai direncanakan akan menggunakan gas bumi sebagai bahan bakar. Menurut General Manager Refinery Dumai, Afdal Marta ditirukan Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim, tahun 2017 kilang Dumai ditargetkan sudah bisa menggunakan gas bumi yang harganya lebih murah sebagai bahan bakar kilang.

Ibrahim mengungkapkan mengganti bahan bakar minyak (BBM) ke gas bumi merupakan langkah besar dan strategis ditengah industri migas sedang menghadapi rendahnya harga minyak dunia.

“Penggunaan gas sebagai bahan bakar dikilang minyak adalah jawaban hilir migas dalam meningkatkan efisiensi terutama di rantai kegiatan pengolahan yang nyatanya masih lebih mahal dari kilang di negara tetangga,” ujar Ibrahim Hassyim, Kamis (25/02/2016) di Jakarta.

Selain itu, menurut GM Refinery Dumai, langkah ini sejalan dengan rencana pengembangan kapasitas kilang yang saat ini hanya sebesar 120.000 barel per hari (bph) menjadi 150.000 bph melalui revamping dan pengembangan unit process yang pada akhirnya mampu mencapai target akhir kapasitas produksi menjadi 3 kali lipat.

Untuk pasokan gas buminya sendiri akan di pasok dari lapangan gas PetroChina dan Jambi Merang melalui pipa open access Tranportasi Gas Indonesia (TGI) dan pipa distribusi dedicated kilang yang akan dibangun dari Duri ke Dumai sepanjang 90 km.

“Kebutuhan gas tahap awal adalah sebesar 50 mmcfd (million standard cubic feet per day) dan akan meningkat bertahap sampai dengan 150 mmscfd yang disesuaikan dengan kemajuan pengembangan kilang,” ujar Ibrahim Hasyim.

Ditambahkan Ibrahim, akan dibangunnya pipa gas Duri – Dumai diharapkan target pembangunan infrastruktur khususnya dengan pipa gas bumi dalam rangka mendorong pemanfaatan gas untuk kebutuhan domestik akan maju setapak demi setapak.

“Penggunaan gas bumi untuk bahan bakar kilang Dumai bisa memberi manfaat seperti efisiensi kilang akan meningkat karena peran fuel cost dalam operating cost kilang cukup besar, minyak yang dibakar selama ini bisa diproses menjadi produk yang bernilai tambah lebih tinggi, dapat menekan ”refinery losses” yang selama ini jadi masalah dan ikut memberi kontribusi pada meningkatkan kualitas udara bersih,” tutup Ibrahim.