MESDM: Harga Gas Berpotensi Turun 30%

    898

    JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan harga gas di Indonesia berpotensi turun. Penurunan harga gas hingga 30% ini akan didorong Pemerintah melalui langkah-langkah yang nyata.

    “Menganalisis dari berbagai masukan, banyak pihak yang berpendapat bahwa harga gas di Indonesia tidak kompetitif jika dibandingkan industri serupa di berbagai negara. Tata kelola gas terus kita benahi dari waktu ke waktu agar lebih kondusif terhadap Industri. Kita akan terus mendorong agar harga gas bisa berkurang hingga 30%,” kata Sudirman dalam keterangan resminya, Minggu (29/11/2015).

    Menurut Sudirman, berkurangnya harga gas diyakini akan memacu pertumbuhan sektor hilir yang saat ini ada dan akan mengundang investasi baru bukan saja di hilir tapi juga secara langsung menggairahkan investasi di sektor hulu migas.

    Penurunan harga gas hingga 30% akan didorong Pemerintah melalui langkah-langkah nyata. Dari sisi hulu penurunan harga gas dilakukan dengan mengurangi government take. Di sisi midstream dan distribusi, penurunan harga akan dilakukan dengan menerapkan regulated margin sehingga biaya transmisi dan distribusi dapat diterapkan secara fair. Pembentukan badan penyangga gas nasional akan menjamin penyediaan dan penurunan harga gas, dengan sistem yang lebih sederhana.

    Sudirman Said juga mengapresiasi gagasan integrasi antara PT PGN dengan PT Pertagas menurutnya, integrasi bisnis antara PT PGN tbk. dengan PT Pertagas, anak usaha PT Pertamina (persero) tersebut merupakan kebijakan yang akan berdampak besar bagi efisiensi bisnis gas.

    “Investasi infrastuktur akan lebih efisien.  Juga open akses sistem segera dapat diberlakukan. Tentu saja perlu didahului denan kajian komprehensif tetapi kalau kita berorientasi pada dampak makro, saya yakin kita bisa menemukan solusi” pungkas Sudirman.

    Terkait Permen ESDM No. 37 tahun 2015, pemerintah menegaskan kembali bahwa salah satu tujuannya adalah untuk menurunkan biaya transaksi, baik dari aspek pemangkasan rantai distribusi dan transportasi. “Alokasi gas untuk trader hanya dapat diberikan kepada BUMN, BUMD dan Badan Usaha yang memiliki fasilitas dan hanya boleh dijual ke pengguna akhir. Dengan demikian trader gas berlapis-lapis yang membuat margin relatif tinggi dapat dihilangkan,” ujar Direktur Jenderal Minyak Dan Gas Bumi, Wiratmadja.