Pemerintah Lakukan Groundbreaking Proyek Infrastruktur Gas Bumi Terintegrasi di Jawa Tengah

    1295

    lorok1SEMARANG. Setelah dilelangkan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) pada tahun 2006, infrastruktur Jaringan Pipa Transmisi Gas Bumi Kalimantan-Jawa (Kalija) tahap I dari Lapangan Gas Kepodang menuju Pembangkit Listrik Tenaga Gas-Uap (PLTGU) Tambak Lorok, Semarang, Jawa Tengah, Jum’at (14/03/2014) dilakukan ground breaking. Pipa Transmisi Kalimantan-Jawa (Kalija) akan diselesaikan dalam dua tahap dan Proyek Distribusi Gas Bumi Jawa Tengah yang terbagi dalam tiga koridor.

    Dua tahap pembangunan Pipa Transmisi Kalija itu adalah Pipa Kalija I sepanjang 207 kilometer yang menghubungkan sumber gas Lapangan Gas Kepodang ke PLTGU Tambak Lorok (PLN) dan Pipa Kalija II sepanjang 1.200 kilometer yang menghubungkan sumber gas di Kalimantan Timur ke Jawa. Adapun tiga koridor jaringan distribusi gas bumi Jawa Tengah adalah  Koridor I yang meliputi Kendal – Semarang – Demak (48 km), Koridor II: Wilayah Ungaran (34 km) dan Koridor III di wilayah Pekalongan-Solo Raya-Pati (235 km).

    Hadir dalam acara peresmian ini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik, Kepala BPH Migas Andi Noorsaman Sommeng, Plt Kepala SKK Migas, Johanes Widjanarko, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) Hendi P. Santoso.

    Jero mengungkapkan, pembangunan proyek infrastruktur gas bumi terintegrasi di Jawa Tengah ini merupakan momentum penting untuk mempercepat  program konversi energi dari BBM ke Gas bumi. Pemerintah berharap pembangunan pipa dari Lapangan Gas Kepodang ke PLTGU Tambak Lorok dapat selesai tepat waktu, sehingga  dapat menghemat biaya energi PLN.

    Menteri ESDM juga menambahkan, pembangunan proyek Kalija I ini menjadi bukti keberhasilan Pemerintah dalam mendorong percepatan infrastruktur gas bumi setelah sekian lama proyek ini terhenti.  Percepatan infrastruktur gas bumi ini juga sejalan dengan upaya pemerintah yang terus meningkatkan alokasi gas bumi untuk domestik. Pada tahun 2014, rencana alokasi gas domestik mencapai sebesar 4.560 miliar british thermal unit per hari (BBTUD) atau 57,3 persen dari total produksi, sementara di tahun 2013 alokasi gas bumi domestik sebanyak 3.774 BBTUD atau 52,6 persen.

    “Pemerintah akan terus meningkatkan alokasi gas domestik sejalan dengan pembangunan infrastruktur dan meningkatnya penggunaan gas bumi di berbagai wilayah di Indonesia. Kementerian ESDM akan mendorong BUMN Gas untuk terlibat secara aktif membangun infrastruktur gas bumi seperti yang telah dilakukan hari ini dengan membangun Pipa Kepodang-Tambak Lorok,” ujarnya.

    Pembangunan infrastruktur gas terintegrasi di Jawa Tengah perlu dipercepat mengingat wilayah ini belum mendapat aliran gas secara maksimal. Dengan adanya infrastruktur dan pasokan gas bumi sektor industri dan ekonomi Jawa Tengah akan tumbuh lebih cepat dengan tingkat daya saing yang semakin kuat.

    “Pembangunan jaringan pipa transmisi Kalija I harus segera dilanjutkan dengan pembangunan jaringan pipa distribusi di berbagai wilayah Jawa Tengah. Ketersediaan energi murah seperti gas bumi akan mendorong masuknya investasi dan investor ke berbagai sektor industri. Hal itu tentunya akan sangat positif bagi penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan, khususnya di wilayah Jawa Tengah,” tegas Jero.