Petral Bubar, Ibrahim Hasyim: Bukan Berarti Pertamina Tidak Bisa Bangun Anak Perusahaan di Luar Negeri

1575

ibra4Jakarta — Pertamina Energy Trading Limited (Petral) telah bubar. Pembubaran dilakukan karena Petral disinyalir telah menjadi sarang bagi mafia bisnis migas. Lantas apakah dengan bubarnya Petral, langkah perusahaan plat merah yang akan bermain dipasar global menjadi terkendala?

Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim mengatakan bubarnya Petral tidak berarti kedepan Pertamina terkendala dan tidak bisa lagi membangun anak perusahaan di luar negeri.

“Pertamina sebagai perusahaan yang akan main dipasar global, mau tidak mau akan ada saham diperusahaan di luar negeri. Akuisisi beberapa lapangan minyak di luar negeri saat ini, menunjukkan akan kebutuhan itu,” kata Ibrahim Hasyim, Selasa (19/05/2015) di Jakarta.

Petral, menurutnya sudah tidak bisa dipulihkan. Sebaik apapun manajemen kedepan diperbaiki, tetap saja setiap sebut Petral pasti identik dengan mafia bisnis migas. “Karena itu pembubaran Petral adalah satu tindakan untuk memutuskan diri dengan masa lalu,” ujarnya.

Ibrahim menuturkan, sebagai salah satu negara dengan produksi minyak cukup besar, sementara kebutuhanya masih sedikit pada tahun 70-an telah mengharuskan Indonesia menjadi bagian negara pengekspor minyak dan masuk anggota OPEC.

“Pada tahun 70-an produksi minyak Indonesia mencapai 1.5 juta barel per hari. Sementara kebutuhan dalam negeri pada waktu itu hanya sekitar 800 ribu barel per hari. Indonesia pun menjadi salah satu negara pengekspor minyak. Petral awalnya didirikan untuk ekspor minyak ke Amerika dan sebagai negara pengekspor perlu ada dipasar untuk memperlancar bisnis. Kemudian kita tahu semua sesuai perkembangan bisnis minyak, Petral pindah ke Hongkong. Namun, sejalan dengan perkembangan sekarang konsumsi lebih besar dari produksi maka dia (Petral) digunakan untuk mengimpor,” pungkasnya.

Sebenarnya, imbuh Ibrahim, Petral sebagai anak perusahaan Pertamina yang dibentuk sekitar tahun 69 tetap harus ada, karena membangun perusahaan nasional di luar negeri itu tidak mudah keberhasilannya. Kalau keberadaanya memang tidak dipercaya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Petral bisa melakukan trading sendiri di luar negeri, kalau perlu dengan ganti nama supaya tidak alergi.

“Membicarakan Petral persis seperti cerita 1.001 malam Abu Nawas yang tidak pernah habis, karena itu harus ditutup lembarannya. Petral tamat,” tambah Ibrahim.