Realisasi Penyaluran BBM Bersubsidi Hingga Maret 2014 Sebesar 23,6%

322

pertaminaJakarta – Realisasi penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi hingga 31 Maret 2014 dari laporan PT Pertamina (Persero) yang belum diverifikasi oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) telah mencapai 11.195.155 kiloliter (KL) atau 23,6%.

Untuk Bensin Premium dari kuota APBN 2014, PT Pertamina sebesar 32.320.000 KL terealisasi 7.097.436 KL atau 22,0%, Kerosin dari kuota sebesar 900.000 KL terealisasi sebanyak 249.099 KL atau 27,7%, dan Minyak Solar dari kuota sebesar 14.135.000 KL terealisasi sebanyak 3.848.580 KL atau 27,2%.

Menurut Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero), Hanung Budya dalam surat yang dikirimkan ke BPH Migas pada tanggal 14 April 2014, dengan nomor surat 084/F0000/2014-S3, mengungkapkan terjadi peningkatan sebesar 2,11% dibanding periode yang sama di tahun 2013.

“Realisasi penjualan BBM bersubsidi secara keseluruhan periode sampai dengan 31 Maret 2014 terjadi peningkatan sebesar 2,11%, bila dibandingkan periode yang sama tahun 2013,” katanya.

Jika melihat konsumsi BBM bersubsidi sampai dengan Maret 2014 dibandingkan konsumsi tahun 2013 pada periode yang sama untuk bensin premium terjadi peningkatan konsumsi sebesar 1,63%, minyak solar/biosolar terjadi peningkatan konsumsi sebesar 3,91%.

Ditambahkan Hanung, peningkatan konsumsi BBM bersubsidi terjadi karena beberapa hal, diantaranya adanya peningkatan jumlah kendaraan bermotor, disparitas harga antara bensin premium dengan BBM non subsidi (Pertamax) yang mencapai Rp. 4.750,-/liter, dan target pertumbuhan ekonomi tahun 2014 sebesar 6% membutuhkan konsumsi BBM jenis premium dan minyak solar untuk menunjang pertumbuhan tersebut.

“Pertumbuhan konsumsi minyak solar sampai dengan Maret 2014 dibandingkan periode yang sama tahun 2013 hanya 3,9% jauh lebih rendah bila dibandingkan pertumbuhan 2013 vs 2012 sebesar 11,31% karena adanya berbagai upaya pengendalian penyaluran minyak solar bersubsidi yang dilakukan di seluruh wilayah,” jelas Hanung.