Rumitnya Pola Distribusi BBM di Negara Kepulauan Seperti Indonesia

1527

liputan6Jakarta — Indonesia merupakan negara kepulauan. Kurang lebih terdiri dari sekitar 17.000 pulau terbentang dari sabang sampai Merauke. Hal ini tentu menjadi kendala dalam penyediaan dan pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM).

Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy Noorsaman Sommeng mengakui pendistribusian BBM di negara kepulauan seperti Indonesia memang sangat sulit, sehingga supply chain managemennya membutuhkan suatu pemikiran yang sangat rumit. Ia menurutkan titik suplai, titik destinasi itu sangat penting sekali.

Menurutnya, titik suplai itu rata-rata ada di bagian barat dari pada republik Indonesia. Sementara titik titik yang banyak mengkonsumsi dari sabang sampai merauke. Ditambah lagi daerah-daerah remot yang memang agak sulit untuk dijangkau.

“Disitu nanti dibutuhkan banyak infrastruktur untuk penyimpanan, infrastruktur di dalam rangka menerima BBM yang kita ambil dari satu titik apakah itu di pulau Jawa, Sumatera atau di Kalimantan,” katanya Andy di ruang Kerjanya, Jumat (13/03/2015).

Kendala lain di Indonesia dikenal ada dua jenis BBM, yaitu BBM bersubsidi dan jenis Bahan Bakar Minyak Umum. Tetapi setelah terbit Perpres 191 tahun 2014 kenal ada tiga jenis BBM, yaitu Jenis BBM tertentu atau BBM subsidi seperti Solar dan Minyak Tanah. Kemudian BBM khusus penugasan.

BBM khusus penugasan itu disebut Premium. Premium sekarang sudah tidak lagi di subsidi tetapi untuk di luar pulau jawa berbeda dengan di daerah Jamali. Ada biaya distribusi tambahan untuk Badan Usaha yang mendistribusikanya, dan terakhir Jenis BBM umum.

Diuraikan Andy, dulu saat perbedaan harganya Rp.4.000 sampai Rp.5.000,- mendorong orang untuk melakukan penyalahgunaan. Orang bisa menjual kembali dengan perbedaan harga yang cukup signifikan. Untuk saat ini tidak lagi karena tinggal Solar dan itu pun subsidinya subsidi tetap Rp 1.000,- per liter. Kecuali Kerosin atau Minyak Tanah yang saat ini harganya masih Rp.2.500. Masih masih ada sekitar Rp. 2.500 sampai Rp. 3.000,- per liter untuk minyak tanah.

“Yang paling menjadi masalah adalah berkaitan dengan PSO. Kebutuhan BBM PSO masing-masing daerah itu berbeda-beda, dan titik supply-nya juga beda-beda,” tandasnya.