Sumber Energi Berbasis Gas Bumi, Prabumulih Bisa Jadi “Kota Gas” Pertama Di Indonesia

1580

????????????????????????????????????

Jakarta Keseluruhan energi yang digunakan berbasis gas bumi, Kota Prabumulih, Sumatera Selatan bisa menjadi “Kota Gas” pertama di Indonesia. Kota yang terdiri dari lima Kecamatan tersebut sudah tersambung dengan jaringan gas bumi.

Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim mengungkapkan pada awalnya Pemerintah telah membangun jaringan gas di tiga Kecamatan melalui APBN. Kini, sisa dua Kecamatan telah tersambung jaringan gas yang dibangun oleh Pertamina Gas.

Menurut Ibrahim, semua rumah tangga di lima Kecamatan di Kota Prabumulih sudah tersambung jaringan gas rumah tangga. Prabumulih termasuk satu diantara 9 lokasi yang pada tahun 2008 dilakukan pengkajian oleh BPH Migas untuk dibangun jaringan gas bagi kebutuhan energi rumah tangga menggantikan Minyak Tanah.

Ditambahkan Ibrahim, disana pun sudah ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang melayani kendaraan milik Pemerintah Kota. “Dengan sudah terpasangnya jaringan gas di seluruh kota, penambahan SPBG disana juga sangat memungkinkan, sehingga semua kendaraan, baik umum dan pribadi bisa beralih menggunakan gas sebagai bahan bakarnya. Apabila itu terealisasi, maka Prabumulih layak dan pantas disebut sebagai “Kota Gas”, karena seluruh energinya berbasis gas,” ujar Ibrahim, Senin (07/03/2016) di Jakarta.

Sebagaimana diketahui, sumber pasokan gas bumi untuk rumah tangga di Kota Prabumulih dipasok dari sumur Pertamina EP Asset-II dengan alokasi gas sebesar 0,5 mmscfd (million standard cubic feet per day).

Ibrahim juga menguraikan penggunaan gas bumi memang harus terus didorong untuk pemenuhan kebutuhan energi bagi masyarakat. Namun, pengembangan gas kota tentu akan lambat apabila seluruhnya investasinya hanya dibebankan kepada pemerintah. Oleh karena itu perlu juga didorong Badan Usaha.

“Kalau kita dorong Badan Usaha dengan dapat sedikit untuk mengembalikan investasi meski butuh waktu yang panjang saya kira itu bisa lebih cepat,” pungkasnya.

Sementara itu, Presiden Direktur Pertagas Niaga Jugi Prajogio saat dikonfirmasi terkait “kota gas” ini mengatakan bahwa semua tergantung kebijakan pemerintah apakah mau satu kota dibuatkan gas kota atau dibeberapa kota.

Menurutnya, syarat utama untuk menjadi gas kota itu diantaranya adanya sumber gas yang dekat dengan area yang akan dijadikan kota gas. Selain itu juga ada alokasi gas dari pemerintah dengan harga khusus dan area yang akan dijadikan gas kota merupakan area dengan density yang cukup padat (jarak antara rumah berdekatan).

“Selanjutnya adanya jaringan pipa gas yang menyambungkan antara sumber gas dengan area gas kota yang dituju. Ini semua dilakukan untuk menghemat anggaran pembangunan gas kota,” kata Jugi Prajogio, Jum’at (04/03/2016).

Sementara itu, Komite BPH Migas A. Qoyum Tjandranegara mengungkapkan banyak keuntungan dari penggunaan gas alam. Selain bisa digunakan selama 24 jam, menggunakan gas kota tidak akan pernah terjadi kecelakaan karena ketika terjadi kebocoran, meskipun tekanannya rendah, gasnya langsung naik keatas.

“Dengan menggunakan gas bumi biaya yang dikeluarkan juga lebih murah bila dibandingkan dengan menggunakan LPG,” pungkas A. Qoyum.