MENGGANTI BAHAN BAKAR FOSIL DENGAN ENERGI TERBARUKAN
13 Agustus 2009; BPH MIGAS
JIMBARAN, BALI. Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Tubagus Haryono pada
Seminar Nasional MIPAnet yang diadakan di kampus Udayana, Bukit Jimbaran, Bali memaparkan untuk
menggunakan Bahan Bakar terbarukan sebagai pengganti Bahan Bakar fosil untuk mengurangi dampak efek
rumah kaca dan pemanasan global.
Tubagus Haryono memaparkan, gas rumah kaca sebenarnya bermanfaat karena memungkinkan terjadinya
kehidupan, tanpa mereka, panas akan keluar kembali ke ruang hampa dan suhu bumi akan menjadi sangat
dingin.
Namun, jika efek rumah kaca menjadi lebih kuat, maka akan lebih banyak panas yang
ditangkap dari pada yang dibutuhkan, dan mungkin bumi akan menjadi kurang
habitable untuk dihuni manusia, tumbuhan dan hewan.
“Memang dibutuhkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang tepat untuk mendukung program
energi terbarukan tersebut. Salah satunya dengan upaya menemukan teknologi yang tepat dibidang
energi terbarukan, dibutuhkan riset sains dasar sebagai sumber inspirasi dan ide penciptaan
tekonologi baru,” papar Tubagus.
Saat ini pengembangan energi terbarukan di Indonesia masih memiliki beberapa kendala. Kendala
tersebut diantaranya:
1. Beberapa jenis energi terbarukan relative mahal karena
teknologinya masih impor.
2. Pasar energi terbarukan masih terbatas, sehingga mengakibatkan
keengganan minat swasta untuk berinvestasi di bidang ini.
3. Kemampuan jasa dan industri energi mengakibatkan pengembangan
dalam negeri masih kurang
4. Adanya subsidi BBM mengakibatkan pengembangan energi terbarukan
menjadi semakin sulit
5. Kurangnya kebijakan yang bersipat operasional untuk energi
terbarukan
6. Kemampuan SDM relative rendah terutama untuk energi terbarukan
yang belum komersil
Simposium Nasional MIPAnet tahun ini diadakan di FMIPA Universitas Udayana di Bali. Tema utama
yang diusung adalah
“Bridging MIPA and Society”
dalam lingkup trigonal konsep
Pure Sciences, Applied and Education. Konsep tersebut dijabarkan dalam sub tema yang
merefleksikan ketiganya antara lain Peningkatan Kualitas Pendidikan MIPA, Pengembangan Riset Dasar,
Tantangan MIPA dalam Menangani Krisis Energi dan Perubahan Iklim Global.
Sementara itu, Ketua Panitia MIPA, Dr. Abdul Haris dalam sambutannya memaparkan bahwa
Perkembangangan Sience dan Teknologi yang pesat sekarang ini telah menuntut perguruan tinggi
penyelenggara MIPA perlu senantiasa merepitalisasi mutu pengajaran dan riset dalam upaya mengikuti
perkembangan sience dan teknologi.
“Sudah saatnya pergururuan tinggi menetapkan dan mengembangkan risetnya masing-masing sehingga
Tridarma perguruan tinggi bukanlah slogan semata,” ujarnya.
Hadir dalam acara tersebut diantaranya adalah, Prof. Dr. Suryo HapsoroTriutomo, yang mewakili
dirjen Dikti, Depdiknas, Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr.I Made Prakta, Sekjen MIPA NET,
Dr.Adita Supriadi, Wakil Ketua LIPI, Prof. Lukman Hakim, Ketua BPH Migas, Drs. Tubagus Haryono.
MM, Sekretaris Perusahaan PT Pertamina (Persero), Toharso dan Pemimpin Redaksi Republika,
Ichwanul Irkam dan para dekan dari Fakultas MIPA dan Sience dan Teknologi.