Berita
Tanggal 10 September 2010
 

MENGGANTI BAHAN BAKAR FOSIL DENGAN ENERGI TERBARUKAN

13 Agustus 2009; BPH MIGAS

JIMBARAN, BALI. Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Tubagus Haryono pada Seminar Nasional MIPAnet yang diadakan di kampus Udayana, Bukit Jimbaran, Bali memaparkan untuk menggunakan Bahan Bakar terbarukan sebagai pengganti Bahan Bakar fosil untuk mengurangi dampak efek rumah kaca dan pemanasan global.

Tubagus Haryono memaparkan, gas rumah kaca sebenarnya bermanfaat karena memungkinkan terjadinya kehidupan, tanpa mereka, panas akan keluar kembali ke ruang hampa dan suhu bumi akan menjadi sangat dingin.

Namun, jika efek rumah kaca menjadi lebih kuat, maka akan lebih banyak panas yang ditangkap dari pada yang dibutuhkan, dan mungkin bumi akan menjadi kurang habitable untuk dihuni manusia, tumbuhan dan hewan.

“Memang dibutuhkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang tepat untuk mendukung program energi terbarukan tersebut. Salah satunya dengan upaya menemukan teknologi yang tepat dibidang energi terbarukan, dibutuhkan riset sains dasar sebagai sumber inspirasi dan ide penciptaan tekonologi baru,” papar Tubagus.

Saat ini pengembangan energi terbarukan di Indonesia masih memiliki beberapa kendala. Kendala tersebut diantaranya:

1.      Beberapa jenis energi terbarukan relative mahal karena teknologinya masih impor.

2.      Pasar energi terbarukan masih terbatas, sehingga mengakibatkan keengganan minat swasta untuk berinvestasi di bidang ini.

3.      Kemampuan jasa dan industri energi mengakibatkan pengembangan dalam negeri masih kurang

4.      Adanya subsidi BBM mengakibatkan pengembangan energi terbarukan menjadi semakin sulit

5.      Kurangnya kebijakan yang bersipat operasional untuk energi terbarukan

6.      Kemampuan SDM relative rendah terutama untuk energi terbarukan yang belum komersil 

Simposium Nasional MIPAnet tahun ini diadakan di FMIPA Universitas Udayana di Bali. Tema utama yang diusung adalah “Bridging MIPA and Society” dalam lingkup trigonal konsep Pure Sciences, Applied and Education. Konsep tersebut dijabarkan dalam sub tema yang merefleksikan ketiganya antara lain Peningkatan Kualitas Pendidikan MIPA, Pengembangan Riset Dasar, Tantangan MIPA dalam Menangani Krisis Energi dan Perubahan Iklim Global.

Sementara itu, Ketua Panitia MIPA, Dr. Abdul Haris dalam sambutannya memaparkan bahwa Perkembangangan Sience dan Teknologi yang pesat sekarang ini telah menuntut perguruan tinggi penyelenggara MIPA perlu senantiasa merepitalisasi mutu pengajaran dan riset dalam upaya mengikuti perkembangan sience dan teknologi.

“Sudah saatnya pergururuan tinggi menetapkan dan mengembangkan risetnya masing-masing sehingga Tridarma perguruan tinggi bukanlah slogan semata,” ujarnya.

Hadir dalam acara tersebut diantaranya adalah, Prof. Dr. Suryo HapsoroTriutomo, yang mewakili dirjen Dikti, Depdiknas, Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr.I Made Prakta, Sekjen MIPA NET, Dr.Adita Supriadi, Wakil Ketua LIPI, Prof. Lukman Hakim, Ketua BPH Migas, Drs. Tubagus Haryono. MM, Sekretaris Perusahaan PT Pertamina (Persero), Toharso dan Pemimpin Redaksi Republika, Ichwanul Irkam dan para dekan dari Fakultas MIPA dan Sience dan Teknologi.

 
Kuota BBM
Realisasi Penjualan
Harga Nasional
Perkembangan Harga BBM
Pelaksanaan Lelang
Rencana Lelang Gas
Lelang Gas Bumi
Pengumuman Lelang
 
   
 
Gedung BPH MIGAS, Jl. Kapten P. Tendean No : 28 Jakarta Selatan 12710 - Indonesia
Telp : +62-21 5255500, +62-21 5212400 Fax : +62-21 5223210, +62-21 5255656
Email
: humas@bphmigas.go.id
Copyright © 2005 | BPH MIGAS