JARINGAN GAS BUMI HEMAT SUBSIDI SEKITAR RP 1 TRILIUN
19 Maret 2010; BPH MIGAS
JAKARTA. Melalui pembangunan infrastruktur jaringan Gas Bumi untuk rumah tangga di sekitar kota
yang memiliki sumber Gas Bumi, diharapkan dapat mempercepat pengurangan Minyak Tanah sehingga
dapat membantu kemandirian energi.
Hal ini dikatakan Menteri EDM Darin Zahedy Saleh, saat meresmikan Pemanfaatan Jaringan
Distribusi Gas Bumi untuk Rumah Tangga dan Penandatanganan Nota Kesepahaman Alokasi Pasokan Gas
Bumi untuk Rumah Tangga Tahun 2010, Kamis (18/03/2010) di Auditorium Kementerian ESDM.
“Program pemanfaatan jaringan Gas Bumi untuk rumah tangga dapat menghemat 2,8 juta liter atau
setara dengan Rp 1 triliun penghematan anggaran Subsidi Minyak Tanah,” katanya.
Menurut Darwin, hal ini tidak mungkin terwujud tanpa sikap terbuka dan dorongan positif dari
Pemerintah Daerah, baik Gubernur, Walikota maupun Bupati.
Darwin menambahkan, program pembangunan jaringan distribusi gas bumi dapat dilaksanakan di
kota-kota atau daerah yang dekat dengan sumber gas bumi dan memiliki jaringan pipa transmisi gas
bumi serta peralatan pendukung lainnya untuk mengurangi pembiayaan yang berasal dari APBN.
Pembangunan jaringan distribusi Gas Bumi untuk rumah tangga merupakan wujud konkrit
diversifikasi energi. “Penggunaan Gas Bumi merupakan pilihan tepat ditengah fluktuasi harga minyak
dunia yang otomatis berpengaruh terhadap Subsidi yang ditanggung oleh Pemerintah,” ujarnya.
Pada 2009, Pemerintah memerlukan Subsidi sekitar Rp 45 triliun untuk BBM termasuk Minyak Tanah.
Untuk itu, diharapkan program pembangunan jaringan distribusi Gas Bumi beban Subsidi dapat
berkurang.
Dijelaskan Darwin, saat ini, cadangan Minyak Bumi diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar
15 tahun sedangkan Gas Bumi bertahan lebih lama sekitar 60 tahun. Menurut Darwin, cadangan Gas Bumi
masih cukup besar, namun sejauh ini pemanfaatannya belum maksimal.
Sementara itu rencana jaringan distribusi Gas Bumi 2010, dijelaskan Dirjen Migas, Evita H.
Legowo jaringan distribusi Gas Bumi untuk rumah tangga akan dibangun di Tarakan, Depok, Bekasi, dan
Sidoardjo. menjelaskan bahwa untuk 2010, di Tarakan akan dipasok oleh Medco E&P. Bekasi dan
Depok akan dipasok oleh PT Pertamina EP, sedangkan untuk Sidoardjo melanjutkan nota kesepahaman
sebelumnya dengan PT Lapindo Brantas.
“Jaringan distribusi untuk rumah tangga di Kota Tarakan akan dibangun di Kelurahan Karang Balik
dan Sebengkok. Depok di Kelurahan Beji dan Beji Timur. Bekasi di Perumnas Bumi Bekasi Baru dan Kota
Sidoardjo akan di bangun di Medaeng, Tambak Sawah, Ngingas dan Wedero,” jelasnya.
Menurutnya, jumlah sambungan rumah tangga yang akan mendapatkan fasilitas tersebut berkisar
antara 3 ribu sampai dengan 4 ribu sambungan rumah.
Untuk tahun 2009 telah di bangun jaringan Gas Bumi di dua kota yaitu, Palembang dan Surabaya.
Kota Palembang di bangun di Kelurahan Siring Agung dan Lorok pakjo, dengan jumlah sambungan rumah
yang siap dialirkan gas mencapai 3.310 sambungan. Sementara di Surabaya di bangun di kelurahan
Rungkut Kidul dan Kali Rungkut, dengan jumlah sambungan rumah mencapai 2.900 sambungan.
Peresmian pemanfaatan gas bumi untuk rumah tangga di Palembang dan Surabaya, tersebut
ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri ESDM, didampingi Dirjen Migas Kementerian
ESDM Evita H. Legowo dan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin.
Pembangunan jaringan distribusi Gas Bumi untuk rumah tangga merupakan salah satu prioritas
nasional yang bertujuan untuk diversifikasi energi, pengurangan subsidi, penyediaan energi bersih
dan murah serta komplementer konversi Minyak Tanah ke LPG untuk percepatan pengurangan Minyak
Bumi.