HISWANA MIGAS DAN PEMERINTAH KAMPANYEKAN CINTA BBM NON SUBSIDI
28 Juni 2010; BPH MIGAS
JAKARTA. Sekitar 1000 orang dari Kementerian ESDM, Dirjen Migas, BPH Migas, Hiswana Migas, dan
PT Pertamina (Persero) menggelar kampanye gerakan cinta BBM Non Subsidi, Sabtu (26/06/2010) di
Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.
Menurut ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi,
selain untuk mendorong masyarakat menggunakan BBM Non Subsidi, kampanye ini juga dilakukan untuk
menggugah para konsumen yang menggunakan BBM Bersubsidi agar beralih menggunakan BBM Non
Subsidi.
“Hal ini perlu dilakukan mengingat Subsidi Negara untuk BBM Subsidi semakin hari semakin besar,”
kata Eri dalam sambutannya.
Sudah waktunya BBM Bersubsidi untuk tidak diperuntukkan bagi semua pengguna. BBM Subsidi
mestinya hanya diperuntukan bagi mereka yang dianggap memang perlu disubsidi, baik untuk penggunaan
pribadi maupun untuk kegiatan usaha.
“Telah disediakan BBM Non Subsidi dengan kualitas yang lebih baik untuk mereka yang secara
ekonomi memang sesuai dengan daya belinya untuk penggunaan pribadi maupun kegiatan usaha,”
urainya.
Parameter yang digunakan untuk mengukur kelayakan para penerima Subsidi memang belum jelas
diatur, tetapi dapat dirasakan secara individu bahwa layak atau tidak layak seseorang mendapatkan
Subsidi dari Pemerintah.
Bagi mereka yang mampu atau memiliki kendaraan mewah atau sedan dengan kapasitas mesin besar
(2000 cc) menggunakan BBM Non Subsidi merupakan tindakkan yang terpuji, sudah membantu Pemerintah
meringankan beban Subsidi BBM yang hanya diperuntukan bagi masyarakat atau usaha kecil agar dapat
berbagi kesejahteraan.
“Kampanye ini hanya sebagian saja dari usaha untuk menggugah masyarakat umum yang sudah layak
menggunakan BBM Non Subsidi. “Diharapkaan usaha ini bisa bergema keseluruh penjuru tanah air bahwa
secara bertahap BBM Subsidi akan tidak ada dan hanya diperuntukkan bagi mereka yang layak saja,”
pungkasnya.
Data dari UU Nomor 2 tahun 2010, untuk tahun 2010, Subsidi BBM, BBN, dan LPG mencapai sekitar Rp
88,89 triliun. Padahal, lanjut Eri, apabila dapat dihemat sampai akhir tahun anggaran selesai, maka
beban Pemerintah akan sesuai kalkulasinya dan PT Pertamina sebagai pemegang BBM PSO tidak akan
kerepotan.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Kepala BPH Migas, Tubagus Haryono, mengajak seluruh
komponen masyarakat untuk manggunakan BBM Non Subsidi. Menurutnya, penggunaan BBM Non Subsidi
tersebut jauh lebih baik dari BBM Subsidi.
"Pembakaran untuk oktan 88 (Premium) itu tidak sesempurna pembakaran BBM Non Subsidi, seperti
Pertamax. Pembakaran Pertamax lebih sempurna dan memberikan tenaga lebih kuat terhadap
kendaraan," paparnya.
Selain itu, ditambahkan Tubagus, penggunaan BBM Non Subsidi itu juga lebih menghemat
uang, cuma, sambung Tubagus, memang orang berpikir harga jual lebih tinggi. Padahal kalau
dilihat hasil sebenarnya lebih. "BBM Bersubsidi hanya untuk rakyat kecil yang berhak. Oleh karena
itu, pemilik kendaraan mewah kita himbau untuk tidak menggunakan BBM Berubsidi. BBM Bersubsidi
hanya untuk rakyat kecil, sekali lagi hanya untuk rakyat kecil," imbau Tubagus tegas.
Dirjen Migas, Evita H. Legowo mengatakan, bahwa ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai
salah satu sumber energi merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan. Saat ini,
BBM tersebut masih menjadi sumber energi yang dominan yang digunakan pada berbagai sektor di Negara
ini.
Karena itu, untuk menjamin komponen masyarakat dapat memenuhi kebutuhan atas komoditas ini,
Pemerintah sesuai amanat UU memberikan Subsidi pada golongan masyarakat kurang mampu, dalam hal ini
jenis BBM tertentu, yaitu Premium, Minyak Tanah dan Solar.
Namun, imbuh Evita, konsumsi komoditas ini harus dilakukan secara bijak karena BBM merupakan
sumber energi yang tak terbarukan dan kemampuan anggaran Negara untuk menyediakan Subsidi juga
terbatas. Harus ditumbuhkan kesadaran dalam diri bahwa BBM yang digunakan ini adalah suatu yang
berharga yang memerlukan proses panjang untuk memproduksi dan semakin menipis cadangannya.
"Kita tumbuhkan kesadaran bahwa kita harus melakukkan peningkatan untuk menjaga ketersediaan dan
mengurangi beban anggaran Negara yang akhirnya akan memberi dampak pada pembangunan yang lebih baik
di Negara kita," tandasnya.
Kampanye yang berlangsung sejak pukul 07.00 itu, selain menggelar orasi juga membagikan sekitar
1000 pohon cemara dan pucuk merah kepada para pengguna jalan yang melintasi kawasan Budaran Hotel
Indonesia. Kampanye dilakukan secara serentak di 10 kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta,
Bandung, Medan, Palembang, Surabaya, Yogyakarta, Denpasar, Balikpapan, Semarang, dan
Makasar.