Pola distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) memasuki fase baru. Sebelumnya, pengiriman BBM dilakukan melalui mekanisme ship to ship (STS) atau bongkar muat BBM dari satu kapal tanker ke kapal lain di tengah laut. Kini, pengiriman BBM dialirkan melalui submarine pipeline atau pipa yang ditanam di dasar laut menuju Fuel Terminal (FT) Tanjung Batu, Balikpapan untuk didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia.
Perubahan ini menjadi bagian dari integrasi infrastruktur energi nasional untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan pasokan. Anggota Komite BPH Migas Erika Retnowati dalam kunjungannya untuk memastikan kesiapan Kilang Balikpapan dalam menghadapi Ramadhan dan Hari Raya Idulfitri 2026 menjelaskan, transformasi tersebut membuat pengiriman BBM lebih efisien dan terintegrasi langsung dari kilang ke terminal penerima.
“Nanti produk-produk (BBM) dari KPB itu akan dipompa ke sini (FT Tanjung Batu) melalui pipa bawah laut, setelah itu akan didistribusikan ke daerah-daerah, tidak hanya di Kalimantan tetapi sampai ke Makassar, Bali, dan daerah-daerah lainnya,” ujarnya saat pemantauan lapangan di FT Tanjung Batu, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (25/02/2026).
Menurut Erika, FT Tanjung Batu kini menggantikan sebagian pola STS yang selama ini digunakan. “Akan sangat memotong biaya distribusi. Sebelumnya dilakukan distribusi dalam lima STS. Kini tiga pola STS sudah digantikan fungsinya oleh Terminal BBM. Ini akan sangat membantu distribusi (BBM) dan meningkatkan keandalan dari ketahanan energi di seluruh wilayah Indonesia,” imbuhnya.
Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho menambahkan, keberadaan terminal tersebut tidak terpisahkan dari beroperasinya Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.
“Kami ingin memastikan bahwa FT Tanjung Batu ini sebagai supporting system dari pengembangan RDMP yang beberapa waktu lalu sudah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia. Artinya, RDMP dan FT Tanjung Batu ini menjadi satu kesatuan,” ucapnya.
Fathul berharap tahap pembangunan selanjutnya, yaitu pipanisasi Tanjung Batu-Samarinda dan Fuel Terminal Palaran dapat berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
“Mudah-mudahan bisa on time. Tidak ada kendala dalam pembangunannya.
Dengan adanya pipeline ke Samarinda nanti tentunya distribusi (BBM) dari Tanjung Batu di Kalimantan Timur ini bisa berjalan lancar,“ terangnya.
Pemantauan RDMP Balikpapan
Sehari setelahnya, Kamis (27/2/2026), BPH Migas juga meninjau langsung progres RDMP Balikpapan yang kini memasuki tahapan start up Unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) . Unit ini berfungsi mengonversi residu minyak berat menjadi produk BBM bernilai tinggi.
Anggota Komite BPH Migas Eman Salman Arief menerangkan, proses start-up RFCC Kilang RDMP Balikpapan menjadi momentum keberlanjutan kemandirian energi nasional pasca peresmian kilang tersebut.
“Kilang RDMP Balikpapan saat ini tengah berlangsung tahap startup Unit RFCC, kita doakan semoga dapat berjalan lancar sehingga mendukung penyediaan BBM baik di Balikpapan maupun secara nasional,” ucapnya.

Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Hilir Migas Mulyono mengingatkan untuk selalu memperhatikan kepatuhan terhadap keselamatan seperti kepatuhan terhadap regulasi, kepatuhan terhadap alat pelindung diri dan kepatuhan terhadap prosedur kerja.
Sementara itu, Direktur Infrastruktur Proyek dan Asset Integrity Pertamina Patra Niaga (PPN) Setyo Pitoyo menyatakan, penyelesaian RDMP Balikpapan sebagai proyek strategis nasional tersebut terus dikejar. “Sampai saat ini kami terus melakukan best-effort dengan kondisi RFCC sudah mulai normal, dan crude intake akan dinaikkan bertahap menjadi 310 ribu BOPD (Barrel Oil Per Day/Barel Minyak Per Hari). Apabila sudah selesai keseluruhan, crude intake akan dioptimalisasi menjadi 360 ribu BOPD pada Agustus 2026,” ujarnya.
Direktur Operasi Kilang PPN Didik Bahagia juga menyampaikan kesiapan seluruh kilang-kilang dalam menghadapi Ramadan dan Idul Fitri.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Executive General Manager PPN Regional Kalimantan Isfahani juga menyampaikan kesiapan pihaknya dalam menghadapi Ramadan dan Idul Fitri 1447 H tahun 2026.
Pemantauan SPBU Balikpapan
Pada hari yang sama, BPH Migas juga memantau stok dan distribusi BBM di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Balikpapan untuk memastikan kesiapan pasokan menjelang Ramadan dan Idul Fitri (RAFI) 1447 Hijriah.
“Saat ini di SPBU, semua dalam keadaan siap, teman-teman Pertamina Patra Niaga (PPN) sudah mempersiapkan strategi atau langkah-langkah menghadapi RAFI, baik penyediaan BBM maupun pelaksanaan distribusi seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) modular di jalur tertentu yang padat saat memasuki periode lebaran, maupun di tempat wisata,” pungkasnya.
Rangkaian kegiatan ini dihadiri Anggota Komite BPH Migas Erika Retnowati, Fathul Nugroho, dan Eman Salman Arief, Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Hilir Migas Mulyono, Direktur Pemasaran Korporat PPN Alimuddin Baso, Direktur Operasi Kilang PPN Didik Bahagia, Komisaris Independen KPB Sulaeman Tanjung, Direktur Utama KPB Bambang Harimurti, Direktur Operasi KPB Arafat Bayu Nugroho, Executive General Manager PPN Regional Kalimantan Isfahani, General Manager Refinery Unit V Novie Handoyo Anto, Manajer Proyek Fuel Terminal Tanjung Batu Daniel Hutasoit.