Era digital tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mendorong generasi muda memiliki kreativitas untuk melakukan kampanye digital guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya transisi energi.
“Creative mindset adalah kemampuan untuk berpikir di luar kebiasaan dan menghasilkan ide-ide inovatif. Kami mendorong generasi muda termasuk mahasiswa menggunakan media sosialnya sebagai sarana kampanye digital untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait dengan transisi energi dan penggunaan energi yang seefisien mungkin, karena energi itu tidak murah,” papar Anggota Komite BPH Migas Yapit Sapta Putra saat menjadi pembicara secara daring pada acara Digital Campus Orientation (Digication) Batch 8 yang diselenggarakan Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Minggu (9/3/2025).
Yapit memaparkan, generasi muda sebagai salah satu ujung tombak pembangunan bangsa, perlu secara aktif mengkampanyekan pentingnya transisi energi, mengingat saat ini Indonesia masih sangat tergantung pada energi fosil atau tidak terbarukan.
“Selain itu, perlu juga dilakukan kampanye secara digital dilengkapi dengan praktek-praktek terkait pemanfaatan limbah sehingga berdampak positif bagi lingkungan,” tambahnya.
Generasi muda yang memiliki kemampuan memahami teknologi digital, lanjut Yapit, juga dapat memanfaatkan kemampuannya untuk mendukung pengembangan solusi energi berbasis komunitas. Sebagai contoh, berkolaborasi dengan masyarakat lokal untuk menciptakan solusi energi terbarukan yang tepat guna, terutama untuk daerah yang tidak memiliki akses listrik atau bergantung pada energi fosil.
Teknologi digital juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung riset dan pengembangan. Mahasiswa dapat terlibat dalam penelitian dan pengembangan teknologi bioenergi terbaru di perguruan tinggi dan lembaga riset. “Selain itu, melakukan inovasi-inovasi terhadap penggunaan materi yang berasal dari fosil, serta pemanfaaatan limbahnya agar bisa didaur ulang,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Yapit juga menjelaskan model kolaborasi Pentahelix yang terdiri dari unsur akademisi, pemerintah, bisnis, komunitas dan media. Akademisi berperan sebagai konseptor dan sumber pengetahuan, melakukan penelitian, identifikasi potensi, dan peluang pengembangan. Pemerintah berperan sebagai regulator, koordinator, dan fasilitator, dengan menyediakan infrastruktur dan layanan publik yang memadai, mendorong terciptanya regulasi yang kondusif, dan mengkoordinasikan kegiatan para pemangku kepentingan.
“Sementara unsur bisnis membantu mencapai tujuan melalui proses bisnis yang menghasilkan nilai tambah dan pertumbuhan berkelanjutan. Komunitas mendukung dengan mempromosikan produk dan layanan masyarakat, serta bertindak sebagai penghubung antar pemangku kepentingan. Terakhir, media berperan untuk menyebarluaskan dan pembangun brand image, mendukung publikasi dan promosi produk dan layanan masyarakat, serta membangun brand image dari perubahan sosial,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor 2 UICI Lely Pelitasari Soebekty menekankan pentingnya memahami prinsip dasar komunikasi online yaitu menghormati orang lain, menjaga privasi, berkomunikasi dengan jelas dan efektir, berhati-hati dengan konten, serta memiliki sikap bertanggung jawab.
Etika komunikasi tulis online seperti whatsapp, perlu juga menjadi perhatian yaitu waktu pengiriman pesan dan zona waktu, bahasa dan nada, serta privasi dan informasi.
“Jangan membagikan informasi orang lain tanpa izin, berhati-hatilah dengan informasi yang dibagikan, jangan menyebarkan berita hoaks dan gunakan foto profil yang sopan,” tuturnya.