Pemanfaatan jaringan gas bumi (jargas) untuk kebutuhan rumah tangga dan usaha terus didorong Pemerintah. Masyarakat dan pelaku usaha mengungkapkan, jargas merupakan pilihan energi yang aman, murah, efisien dan terjangkau. Penggunaan jargas juga mampu menghemat biaya bahan bakar sekitar 50 hingga 60 persen.
Kevindra Try Nugraha, salah seorang pengusaha Rumah Makan di Kota Jambi menceritakan bahwa dirinya pertama kali mengenal penggunaan gas alam saat menjalankan usaha di Palembang, Sumatera Selatan. Setelah merasakan manfaatnya, ia kemudian menerapkan hal serupa untuk rumah makannya di Jambi.
“Awalnya kami ditawari untuk menggunakan gas bumi. Karena sebelumnya restoran (yang sudah beroperasi) di Palembang sudah pakai jargas, jadi langsung tertarik. Setelah digunakan selama sekitar delapan tahun, penghematannya memang terasa, bisa mencapai 50 sampai 60 persen,” ujar Kevin di Kota Jambi, Jambi, Rabu (1/4/2026).
Sebelum beralih menggunakan gas bumi, biaya bahan bakar yang dikeluarkan untuk kegiatan memasak di restorannya mencapai Rp16-17 juta per bulan. Setelah menggunakan jargas, pengeluaran tersebut turun menjadi sekitar Rp8-10 juta per bulan.
Berdasarkan pengalaman ini, Kevin juga menggunakan jargas untuk usaha restoran bakminya. “Saya rasa, semua pengusaha makanan dan minuman harus menggunakan jargas. Di awal, biaya untuk memasangnya cukup besar, tapi selanjutnya kalau kita hitung, kita kalkulasikan secara akumulatif pasti lebih murah. Mungkin 3-4 bulan sudah kembali modal. Secara jangka panjang pasti akan jauh lebih baik,” urainya sambil mengatakan bahwa jargas praktis karena tidak repot mengganti tabung gas atau khawatir kehabisan gas.
Manfaat jargas juga dirasakan untuk pelanggan rumah tangga, M. Silaban salah satunya. Pensiuanan guru Sekolah Menengah Pertama Kota Jambi ini hanya perlu membayar biaya pemakaian sekitar Rp60.000-70.000 per bulan. Biaya ini jauh lebih murah dibanding menggunakan Liquefied Petroleum Gas (LPG) 12 kg.
Selama 12 tahun menggunakan jargas, Silaban mengaku tidak pernah mengalami kendala. Warga sekitar rumah Silaban juga menyatakan ketertarikan untuk menggunakan jargas. Oleh karena itu, Silaban meminta Pemerintah meningkatkan pengembangan infrastruktur jargas agar lebih banyak lagi masyarakat yang menikmatinya.

“Nyala api bagus. Mereka (tetangga) bilang, kita juga mau,” ungkap Silaban yang pemasangan jargasnya menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Hasbi Anshory yang melakukan kunjungan lapangan pemanfaatan jargas di Kota Jambi mengatakan, rumah tangga maupun pelaku usaha sudah merasakan keuntungan menggunakan Jargas. Untuk itu, Pemerintah terus mendorong pemanfaatan jargas secara lebih luas sebagai energi yang rendah emisi, lebih murah, dan praktis.
“Jargas ini terbukti lebih efisien, tidak perlu antre dan mampu menghemat pengeluaran rumah tangga. Ini juga membantu negara dalam mengurangi beban subsidi LPG,” imbuh Hasbi ditemui di Metering Regulating Station (MRS) di Kelurahan Thehok, Kecamatan Jambi Selatan.
Hasbi juga mendorong masyarakat yang mampu untuk dapat memasang jargas secara mandiri. Skema ini diharapkan dapat mempercepat perluasan jaringan tanpa sepenuhnya bergantung pada subsidi negara.
“Jargas yang dibangun menggunakan APBN adalah diutamakan untuk saudara-saudara kita yang kurang mampu. Kalau kita berharap pembangunan jargas ditanggung semua oleh negara yang anggarannya terbatas, maka pengembangannya tidak bisa cepat,” kata Hasbi.
Dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk percepatan pembangunan jargas juga merupakan hal yang penting. Hasbi mengajak Pemda Jambi meningkatkan sosialisasi agar kesadaran masyarakat terhadap manfaat jargas semakin meningkat.
“Pemda sebagai pemimpin daerah, mari kita bersama-sama menyosialisasikan jargas ini. Berdasarkan hasil dialog dengan warga, masih ada yang takut menggunakan jargas. Padahal gas bumi ini sangat aman. Berat jenisnya lebih kecil dari LPG sehingga gasnya langsung menguap. Jargas ini aman. Jadi, yang perlu disosialiasasikan bahwa jargas aman dan murah. Itu yang perlu kita ingat,” pungkasnya.
Untuk Kota Jambi, telah terbangun 13.000 Sambungan Rumah (SR) jargas menggunakan biaya APBN. Pasokan gas berasal dari PHE Jambi Merang. Jumlah ini diharapkan bertambah menjadi 28.000 SR pada tahun 2026, mengingat saat ini tengah dibangun jargas sebanyak 15.000 SR dengan biaya APBN. Pengelolaan jargas Kota Jambi dilakukan oleh PT Pertagas Niaga yang bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Daerah PT Jambi Indoguna Internasional.
Manager infrastruktur Jargas PT Pertagas Niaga Dwi Wahyono menambahkan, untuk pemasangan mandiri, biaya yang dibutuhkan sekitar Rp4,5 juta, tergantung panjang jaringan pipa ke rumah pelanggan. Pihaknya akan terus melakukan sosialisasi mengenai manfaat jargas agar lebih banyak masyarakat dan pelaku usaha yang menggunakan jargas.