eBadan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama Ombudsman Republik Indonesia (RI) dan Pertamina Patra Niaga meninjau penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi di Semarang dan Kendal, Jawa Tengah. Kunjungan yang dipimpin Kepala BPH Migas Wahyudi Anas bersama Anggota Komite BPH Migas Hasbi Anshory tersebut dilakukan untuk memastikan pasokan dan distribusi solar subsidi bagi nelayan diterima oleh masyarakat yang berhak.
Wahyudi menyampaikan, peninjauan ini menjadi bagian dari evaluasi terhadap kualitas layanan penyaluran BBM subsidi, khususnya bagi sektor perikanan, berjalan dengan baik.
“Untuk memastikan bahwasanya distribusi BBM solar tidak ada kendala dan didistribusikan kepada nelayan yang tepat, tidak diperjualbelikan lagi, dan tidak dikonsumsikan untuk non nelayan,” ujarnya saat ditemui di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tawang, Kendal, Jawa Tengah, Selasa (28/7/2026).
Menurut Wahyudi, hasil pemantauan menunjukkan mayoritas kapal yang beroperasi di TPI Tawang merupakan kapal nelayan berkapasitas di bawah 30 Gross Tonnage (GT). Dari sekitar 1.082 kapal yang tercatat di kawasan tersebut, sekitar 1.000 kapal merupakan kategori 5 GT yang menjadi kelompok utama pengguna solar subsidi.
“Satu hari rata-rata pengambilan BBM dengan surat rekomendasi 300-500 surat rekomendasi, tergantung kegiatan masyarakat yang akan melaut,” katanya.

Wahyudi menilai, tata kelola penyaluran di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Nelayan TPI Tawang telah berjalan dengan baik. Pertamina Patra Niaga juga mengatur pengiriman pasokan lebih awal agar nelayan dapat memperoleh solar subsidi sesuai jam pelayanan, yakni pukul 09.00-17.00 WIB.
“Alhamdulillah, ada SPBU Nelayan ini yang sedang melayani pembelian BBM solar melalui Surat Rekomendasi melalui XStar BPH Migas. Konsumsi BBM rata-rata sekitar 16 ribu liter per hari dan kemudian pada saat puncak bisa 32 ribu liter per hari. Solar subsidi sangat penting pelayanannya untuk masyarakat nelayan,” tuturnya.
Anggota Komite BPH Migas Hasbi Anshory menjelaskan, pengawasan lapangan dilakukan untuk memastikan manfaat subsidi energi benar-benar diterima oleh nelayan sebagai kelompok yang berhak. Selain memastikan ketepatan sasaran penerima, BPH Migas juga mendorong peningkatan pelayanan di SPBU Nelayan agar proses penyaluran solar subsidi berlangsung lebih tertib, lancar, dan mendukung aktivitas nelayan dalam melaut.
“Kami juga memastikan pelayanan SPBU tidak lagi antre dan BBM subsidi ini tepat sasaran,” ujarnya di salah satu SPBU di Semarang.
Sementara itu, Wakil Ketua Ombudsman RI Rahmadi Indra Tektona menilai pelayanan penyaluran BBM bagi nelayan telah berjalan dengan baik. Penyempurnaan mekanisme antrean diharapkan dapat terus diperbaiki agar proses pengisian solar menjadi lebih tertib dan efisien.
“Jadi, kita upayakan ke depannya lebih mudah lagi untuk antreannya dan ada solusi dikasih nomor, mungkin. Sehingga, pada akhirnya memudahkan nelayan untuk bekerja yang harapannya hasilnya akan lebih banyak lagi untuk keluarga, untuk memajukan daerah,” ucapnya.

Executive General Manager Regional Jawa Bagian Tengah Pertamina Patra Niaga Fanda Chrismianto mengatakan pihaknya terus berkomitmen menjaga kelancaran distribusi BBM, terutama bagi nelayan yang menggantungkan mata pencahariannya pada ketersediaan solar subsidi.
“Tentu harus dijamin dan dipastikan ketersediaan dan kelancaran distribusinya (BBM),” terangnya.
Bagi nelayan, kelancaran pasokan solar menjadi faktor penting yang menentukan keberlangsungan aktivitas melaut. Adioso (40), nelayan yang telah melaut selama 15 tahun, mengaku berangkat melaut sekitar pukul 04.00-05.00 WIB dan kembali pada pukul 13.00-14.00 WIB. Saat musim ikan, ia melaut hampir setiap hari dengan kebutuhan solar sekitar 50-60 liter dan memperoleh hasil tangkapan sekitar 80-90 kilogram sekali melaut.
“Terima kasih kepada Pemerintah BBM lancar, solar lancar, nelayan pun ikut senang,” pungkasnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Anggota Ombudsman RI Nuzran Joher, Kepala Perwakilan Ombudsman Jawa Tengah Siti Farida, Region Manager Retail Sales Regional Jawa Bagian Tengah Pertamina Patra Niaga Drestanto Nandiwardhana, dan Integrated Terminal Manager Semarang Olivia Proboningrum Chintami.