Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) meninjau Fuel Terminal (FT) Rewulu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk melihat kesiapan stok dan kelancaran distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) menjelang periode Natal dan Tahun Baru (Nataru). Sejumlah langkah antisipasi disiapkan, mulai dari percepatan waktu pengisian mobil tangki hingga penambahan armada distribusi guna mengantisipasi peningkatan konsumsi selama libur akhir tahun.
“FT Rewulu ini memasok BBM untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, serta mengirimkan BBM juga untuk FT Madiun. Jadi ini cukup strategis posisinya sehingga kita perlu untuk memastikan ketersediaan stoknya. Selain itu, kita tahu sebentar lagi akan datang Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang perlu kita persiapkan karena Yogyakarta ini adalah tempat tujuan wisata yang biasanya pada akhir tahun ataupun awal tahun itu selalu dipenuhi oleh wisatawan,” papar Anggota Komite BPH Migas Erika Retnowati di Yogyakarta, Sabtu (7/11/2026).
Erika menuturkan, berdasarkan pemaparan PT Pertamina Patra Niaga Wilayah Yogyakarta, stok BBM saat ini secara umum mencukupi kebutuhan masyarakat. Pengawasan juga terus dilakukan untuk menjaga kelancaran pasokan.
Salah satu langkah antisipasi yang dilakukan FT Rewulu adalah memajukan waktu pelayanan pengisian mobil tangki. Jika sebelumnya pengisian dimulai pukul 04.00 atau 05.00 WIB, kini operasional dimulai pukul 03.00 WIB agar distribusi BBM ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dapat berlangsung lebih awal.
“Sehingga diharapkan ketika masyarakat beraktivitas pada pagi hari, BBM sudah tersedia di SPBU dan tidak ada kendala. Tidak perlu mengantri untuk menunggu kedatangan mobil tangki BBM,” jelasnya.

Selain memajukan waktu operasional, Pertamina menyiapkan penambahan sarana pengisian mobil tangki di FT Rewulu dan peningkatan jumlah armada distribusi, khususnya untuk melayani titik-titik krusial. Dukungan pasokan darurat juga disiapkan dari sejumlah terminal terdekat, yakni FT Maos, FT Boyolali, dan Integrated Terminal (IT) Semarang.
Dalam kunjungan tersebut, Anggota Komite BPH Migas Harya Adityawarman mengingatkan untuk melakukan koordinasi sejak awal dengan pengelola SPBU guna mengantisipasi peningkatan kebutuhan BBM dalam menghadapi Nataru nanti, termasuk memperpanjang jam operasional di SPBU.
Disamping itu juga penting untuk menjaga pasokan bahan baku pendukung pencampuran BBM, termasuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebagai bahan campuran Biosolar.
“Agar pasokan FAME juga tetap dijaga sehingga pencampuran BBM berjalan lancar,” katanya.
Sementara itu, Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho mendorong penguatan koordinasi antara manajemen FT Rewulu dan Sales Area Manager (SAM) Pertamina Patra Niaga Wilayah Yogyakarta. Koordinasi tersebut diperlukan agar perubahan pola konsumsi BBM harian masyarakat dapat direspons dengan cepat.
“Apresiasi atas sistem digital yang ada di FT Rewulu, seperti sistem otomatisasi terminal (New Gantry System) serta integrasi digital pemantauan Auto-Tank Gauge (ATG) di SPBU secara real-time yang diharapkan memperlancar penyaluran BBM,” ucapnya.
Sebagai informasi, FT Rewulu yang beroperasi sejak 1973 memiliki kapasitas aktif tangki timbun sekitar 68.000 kiloliter (KL). Pasokan utama terminal disalurkan melalui jaringan pipa dari Integrated Terminal Cilacap untuk tiga produk utama, yakni Pertalite, Pertamax, dan Biosolar.
Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut, Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Hilir Migas Mulyono, FT Manager Rewulu Adhi Warsito, dan Sales Area Manager Retail Yogyakarta PT Pertamina Patra Niaga Mahfud Nadyo Hantoro.