Indonesia memiliki aset strategis berupa jaringan pipa gas bumi yang terus berkembang dan mendukung transisi energi nasional. Infrastruktur tersebut didorong agar dimanfaatkan lebih optimal, mulai dari kebutuhan industri, jaringan gas rumah tangga (jargas), hingga distribusi Liquefied Natural Gas (LNG).
Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Arief Wardono mengatakan, Indonesia memiliki jaringan pipa gas lebih dari 22 ribu kilometer (KM). Pemanfaatan infrastruktur gas bumi tersebut diharapkan dapat terus dimaksimalkan.
“Saat ini Indonesia mempunyai jaringan pipa gas sepanjang 22.821 KM yang dikelola dan dioperasikan Badan Usaha Pengangkutan dan Niaga Gas Bumi. Secara cadangan, gas bumi masih ada dan infrastruktur sudah siap. Jadi tinggal bagaimana kita memanfaatkan atau mensinkronisasikan antara regulasi, infrastruktur, dan tata kelola distribusi gas bumi nasional,” papar Arief dalam Forum Group Discussion “Integrasi Infrastruktur dan Tata Kelola Gas Nasional: Menjawab Tantangan Supply, Demand, dan Hilirisasi Pasca Beroperasinya Pipa Cirebon-Semarang” di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Ia menjelaskan, jaringan pipa tersebut terdiri dari pipa transmisi sepanjang 5.370,14 KM, pipa distribusi 6.573,52 KM, serta pipa kepentingan sendiri dan jargas sepanjang 10.877,13 KM. Dalam kurun waktu 2018 hingga 2025, panjang jaringan pipa gas nasional meningkat signifikan dari 13.764 KM menjadi 22.818 KM.
“Pertumbuhan paling signifikan terjadi pada periode 2020-2022 yaitu penambahan pipa jargas di mana Program Gasifikasi Rumah Tangga menjadi prioritas Pemerintah untuk substitusi Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi,” tambahnya.
Arief menuturkan, rampungnya pipa Cirebon-Semarang Tahap II yang diresmikan Wakil Menteri ESDM Yuliot pada 18 Maret 2026 telah menyambungkan jaringan pipa dari Sumatera Selatan hingga Jawa Timur. Integrasi tersebut menjadi tonggak penting penguatan distribusi gas bumi nasional.

“Apalagi nanti kalau pipa dari Dumai-Sei Mangkei (Dusem) tersambung dalam dua tahun ke depan, maka jaringan gas dari ujung utara Sumatera hingga ujung utara Jawa dapat tersambung. Ini membuka fleksibilitas distribusi energi yang sangat besar,” ujarnya.
Arief juga menyoroti potensi pemanfaatan pasokan gas dari berbagai wilayah seperti Natuna, Sumatera Selatan, hingga Andaman apabila konektivitas infrastruktur dapat terintegrasi sepenuhnya. Menurutnya, hal itu akan memperkuat sistem distribusi energi nasional.
Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Direktorat Jenderal Migas, Kementerian ESDM Agung Kuswardono mengungkapkan, Focus Group Discussion yang dihadiri regulator dan badan usaha ini membahas mengenai pengembangan jargas, proyeksi suplai dan demand gas bumi nasional, insentif untuk pengembangan infrastruktur dan gas alam, ketahanan gas domestik dan peran LNG nasional.
“Diharapkan melalui diskusi antara pemerintah dan pemangku kepentingan dapat memperkuat pengaturan regulasi di sektor gas bumi,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Infrastruktur dan Teknologi PT Pertamina Gas Negara (PGN) Tbk Hery Murahmanta menyampaikan optimisme terhadap masa depan gas nasional menyusul adanya temuan cadangan baru yang belum lama ini disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Temuan tersebut dinilai menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pasokan gas domestik di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional.
“PGN telah menyiapkan sejumlah strategi pengembangan infrastruktur gas. Salah satunya melalui integrasi infrastruktur eksisting, serta pembangunan fasilitas LNG untuk menopang kebutuhan energi nasional di masa mendatang,” ujarnya.
Hadir dalam acara ini, Direktur Gas Bumi BPH Migas Muhiddin, Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Hilir Migas Mulyono, Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Monitoring dan Evaluasi Infrastruktur Migas Anggawira, Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi Satya Hangga Yudha, Badan Usaha, dan asosiasi gas bumi.