Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama PT Pertamina Patra Niaga memastikan keandalan pasokan BBM bersubsidi di wilayah Papua, mulai dari wilayah pegunungan, pesisir, hingga perbatasan. Proses distribusi menuju wilayah Wamena yang menjadi simpul distribusi BBM wilayah Papua Pegunungan ini dipantau langsung oleh Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho dan Hasbi Anshory.
Barisan drum berisi ribuan liter Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tersusun rapi, siap diterbangkan dengan menggunakan pesawat Boeing dari Bandara Dortheys Hiyo Eluay, Jayapura menuju Wamena.
Fathul menjelaskan, kondisi geografis Papua membuat distribusi BBM harus melalui berbagai moda transportasi. BBM terlebih dahulu diangkut menggunakan truk tangki dari depo BBM, kemudian dipindahkan ke dalam drum untuk diterbangkan ke Wamena. Dari Wamena, BBM kembali didistribusikan menggunakan armada darat ke sejumlah wilayah, seperti Jayawijaya, Lanny Jaya, dan Tolikara.
“Pengiriman BBM dengan berbagai moda transportasi ini merupakan bukti nyata komitmen Pemerintah dan PT Pertamina Patra Niaga dalam menjaga prinsip keadilan energi,” katanya, Kamis (3/9/2026).
Anggota Komite BPH Migas Hasbi Anshory mengatakan, distribusi melalui berbagai moda tersebut menunjukkan tanggung jawab negara dalam menjaga akses BBM bersubsidi hingga wilayah pelosok.

“Ini adalah bentuk tanggung jawab negara untuk memberikan BBM bersubsidi kepada wilayah di seluruh pelosok negara Republik Indonesia,” tuturnya.
Meski membutuhkan rantai distribusi yang panjang, harga BBM bersubsidi dan kompensasi bagi masyarakat Papua tetap sama dengan wilayah lainnya di Indonesia. BBM jenis Pertalite dijual Rp10.000 per liter dan BBM jenis Biosolar Rp6.800 per liter.
Pemantauan kemudian dilanjutkan ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Nelayan Hamadi dan Integrated Terminal Jayapura. Di SPBU Nelayan Hamadi, BPH Migas melihat langsung penyaluran BBM kepada nelayan, termasuk penerapan aplikasi XStar dalam proses penyaluran bagi konsumen pengguna nelayan.
“Dari hasil pemantauan, diketahui para nelayan dapat terlayani kebutuhan BBM-nya dan cukup untuk melaut,” ujar Hasbi.
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku Awan Raharjo mengatakan, penggunaan XStar membantu pemantauan pemanfaatan BBM sekaligus menyediakan data kebutuhan nelayan.

“Dengan adanya XStar, penyaluran BBM sudah tidak lagi direkap secara manual dan ini sangat membantu sekali kami Pertamina dan juga mitra penyalur untuk menyalurkan sesuai dengan Surat Rekomendasi tersebut. Dampak positifnya adalah data-data tersebut bisa memberikan keyakinan yang lebih lagi untuk bisa mengetahui sebetulnya berapa riil kebutuhan daripada kebutuhan nelayan di satu SPBU Nelayan ini,” tuturnya.
Pemantauan BBM Satu Harga di Skouw
Selain wilayah pegunungan dan pesisir, BPH Migas memantau penyaluran BBM Satu Harga di wilayah perbatasan Skouw, Jayapura, pada Jumat (4/9/2026). BBM Satu Harga yang hadir sejak 2023 di wilayah tersebut memudahkan masyarakat memperoleh BBM dengan harga terjangkau tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke wilayah perkotaan.
Manfaat program itu dirasakan masyarakat setempat. Muhammad Ali (54), warga Skouw, mengatakan keberadaan penyalur BBM Satu Harga memudahkannya memperoleh Biosolar. “Semoga ke depannya lebih baik lagi, lebih lancar lagi. Biar kita semua sopir enaklah,” imbuhnya.

Sedangkan Rosina Membilong (30) mengungkapkan, masyarakat di sekitar Skouw sebelumnya menghadapi persoalan akses untuk mendapatkan BBM. Dengan adanya SPBU ini sangat membantu masyarakat setempat.
Fathul menjelaskan, pemantauan di Skouw dilakukan untuk melihat ketersediaan sekaligus memastikan penyaluran BBM bersubsidi berjalan sesuai ketentuan. Menurutnya, BBM Satu Harga merupakan bentuk keadilan sosial bagi masyarakat di wilayah terluar Indonesia.
“Negara hadir bukan hanya di kota-kota besar, gedung-gedung pencakar langit, jalan-jalan protokol, tetapi juga di daerah perbatasan, jalan-jalan yang sunyi, desa-desa dan kampung-kampung,” imbuhnya.
Bagi masyarakat Skouw, lanjutnya, BBM bukan sekadar energi untuk kendaraan, melainkan juga penggerak kehidupan.
“BBM subsidi menggerakkan kapal-kapal nelayan, usaha-usaha kecil, dan kendaraan untuk angkutan barang maupun penumpang,” pungkasnya.