Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melakukan kunjungan ke Refinery Unit (RU) VII Kilang Kasim PT Pertamina Patra Niaga di Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Jumat (19/6/2026). Peninjauan dilakukan untuk memastikan keandalan stok bahan bakar minyak (BBM) bagi masyarakat di kawasan Indonesia Timur.
Di sela kunjungan, Anggota Komite BPH Migas Eman Salman Arief menyampaikan, Kilang Kasim memiliki peran strategis karena menjadi satu-satunya kilang pengolahan minyak di kawasan Indonesia Timur. Kilang Kasim dibangun pada tahun 1995 dan mulai beroperasi pada tahun 1997. Berdasarkan hasil pemantauan, saat ini kilang beroperasi normal dan mendukung penyediaan BBM di wilayah Papua dan Maluku.
“Saat ini Kilang Kasim dapat menyediakan Pertalite sekitar 8% dan Biosolar sekitar 12% dari demand (kebutuhan) di Papua-Maluku. Sisa kebutuhan dipasok melalui beberapa titik depot atau Terminal BBM (TBBM), seperti TBBM Sorong, Jayapura dan Wayame,” urainya.
Eman menambahkan, untuk meningkatkan ketahanan pasokan BBM di wilayah timur Indonesia, saat ini tengah dibangun fasilitas tangki dan jetty open access. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas operasional kilang.
“Dengan nanti terbangunnya tangki dan jetty open access ini, kapasitas kilang yang saat ini berada di angka sekitar 6 ribu barel per hari dapat kembali ke 10 ribu barel per hari, sesuai kapasitas desain awalnya,” terang Eman.
Eman juga berharap pembangunan dan operasional kilang dapat berjalan lancar sehingga kebutuhan BBM masyarakat di wilayah Papua dan Maluku dapat terus terpenuhi.

Sementara itu, General Manager RU VII Kasim PT Pertamina Patra Niaga Hadi Siswanto menyambut baik dukungan BPH Migas terhadap pengembangan fasilitas kilang. Ia menegaskan komitmen perusahaan dalam menjaga pasokan energi di kawasan timur Indonesia.
“Kami siap menyuplai kebutuhan BBM nasional di area Papua-Maluku, kawasan Indonesia Timur. Juga ke depan, kami siap untuk mendukung pengembangan kilang, sehingga kilang yang ada di Indonesia Timur bisa mencukupi secara keseluruhan kebutuhan Papua dan Maluku,” tuturnya.
Kunjungan ke SPBU BBM Satu Harga
Selain meninjau Kilang Kasim, BPH Migas juga mengunjungi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kompak BBM Satu Harga di Kampung Warsadim, Distrik Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Sabtu (20/6/2026), yang hingga kini belum beroperasi.
Anggota Komite BPH Migas Arief Wardono mengutarakan, salah satu tantangan operasional penyalur BBM Satu Harga tersebut berasal dari persoalan teknis di daerah, terutama terkait proses perizinan.
“Akan kami follow up supaya SPBU BBM Satu Harga ini bisa beroperasi dan memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar terutama nelayan yang ada di sekitar sini,” ucapnya.

Menurut Arief, sekitar 1.600 kepala keluarga yang sebagian besar adalah nelayan membutuhkan keberadaan SPBU tersebut untuk mendukung aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, Eman Salman Arief menilai keberadaan lembaga penyalur BBM memiliki peran penting dalam mendukung konektivitas transportasi darat maupun transportasi air di wilayah Teluk Mayalibit.
“Kita berharap perizinannya dapat terselesaikan dengan baik sehingga SPBU BBM Satu Harga segera berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” pungkasnya.
Rangkaian kegiatan turut dihadiri Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Hilir Migas Mulyono, Sub Koordinator Harga Gas Bumi Rumah Tangga dan Pelanggan Kecil BPH Migas Taufiqur Rohman, Analis Kegiatan Usaha Hilir Migas BPH Migas Zulfikar Tanjung dan Sales Branch Manager Papua Barat 1 Pertamina Patra Niaga Yunus Muharrahman sekaligus mewakili Sales Area Manager Papua Barat Arif Rohman Khakim.