Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memastikan ketersediaan dan pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Yogyakarta berjalan dengan baik. Keandalan stok juga diharapkan terus diperkuat, mengingat Yogyakarta merupakan salah satu destinasi wisata favorit masyarakat.
Anggota Komite BPH Migas Erika Retnowati menyampaikan hal tersebut usai mengunjungi Fuel Terminal (FT) Rewulu dan melakukan monitoring di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Yogyakarta, Rabu dan Kamis (19-20/8/2026).
FT Rewulu memiliki peran penting dalam memasok kebutuhan BBM di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Dari terminal tersebut, distribusi BBM mencakup sembilan wilayah kabupaten, antara lain Kabupaten Sleman, Gunungkidul, Magelang, Temanggung, Purworejo, Bantul, Klaten, dan wilayah lainnya.
“Stok Solar, Pertalite, Pertamax, dan Jenis Bahan Bakar Umum lainnya kita lihat di FT Rewulu sudah mencukupi. Dan juga karena di sini terhubung dengan pipa ke FT Cilacap, artinya sewaktu-waktu (jika diperlukan) stok itu bisa kita minta untuk dialirkan ke Rewulu,” ungkap Erika di FT Rewulu, Kamis (19/8/2026).
Untuk lebih memperkuat pasokan BBM, Erika mendorong peningkatan kapasitas tangki timbun untuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang menjadi salah satu komponen penting dalam penerapan campuran biodiesel B50. Saat ini, FAME untuk FT Rewulu dikirimkan setiap harinya dari daerah Gresik.

“Supaya lebih efisien, kita tentunya harus membangun kapasitas tangki yang lebih besar sehingga kita juga lebih yakin bahwa stok FAME itu juga mencukupi untuk bisa menjadi B50, artinya 50 persen solar dengan 50 persen FAME,” paparnya.
Dalam kesempatan tersebut, BPH Migas juga meminta PT Pertamina Patra Niaga wilayah Yogyakarta melakukan mitigasi agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun. Langkah ini dianggap perlu mengingat pada akhir tahun mobilitas masyarakat meningkat karena libur Natal dan Tahun Baru.
“Yogyakarta ini menjadi destinasi wisata yang favorit untuk teman-teman yang ingin berlibur, kemudian juga untuk anak-anak yang berliburan sekolah. Jadi tentunya harus dipersiapkan dengan baik supaya nanti penyalurannya juga bisa berjalan dengan lancar,” imbuhnya.
Keamanan pasokan BBM juga terlihat pada saat melakukan kunjungan langsung ke SPBU di kawasan Gambiran. Selain ketersediaan stok, BPH Migas juga mengecek infrastruktur digitalisasi yang digunakan SPBU, termasuk rekaman transaksi selama satu bulan terakhir. Hasilnya, pencatatan dan pemanfaatan sistem digital di SPBU dinilai sudah berjalan dengan baik.
“Secara umum sudah cukup baik. Stok aman, CCTV dapat membaca plat nomor kendaraan yang digunakan, serta rekamannya sudah tersedia selama lebih dari satu bulan,” ujar Erika seraya menambahkan bahwa pelayanan di SPBU tersebut dinilai telah memenuhi ketentuan yang berlaku.
Turut mendampingi dalam kegiatan ini, Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Hilir Migas Mulyono, Pjs. FT Manager Rewulu Hendri Dwi Subyantoro, Sales Area Manager Retail Yogyakarta PT Pertamina Patra Niaga Mahfud Nadyo Hantoro.

Seminar Sektor Energi
Selain memastikan keamanan pasokan BBM, Erika menghadiri Diseminasi Cadangan Energi Nasional Sebagai Instrumen Penguatan Ketahanan Energi Nasional di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Kamis (20/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, dibahas pentingnya pemerintah segera merealisasikan cadangan penyangga energi nasional. Keberadaan cadangan tersebut dinilai penting karena Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan BBM dalam negeri.
“Apabila kita tidak mempunyai cadangan, kita akan sangat tergantung pada situasi kondisi politik global di luar negeri. Dan itu akan sangat rawan apabila terjadi sesuatu yang darurat,” kata Erika.
Erika menilai ketahanan energi perlu didukung dengan penguatan cadangan energi, baik berupa BBM maupun sumber energi lainnya. Sejumlah negara telah memiliki cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).
Di sisi lain, BPH Migas memiliki kewenangan terkait cadangan operasional yang wajib disediakan Badan Usaha yang memasok BBM kepada masyarakat. Cadangan operasional tersebut bertujuan menjamin keberlangsungan dan kontinuitas pasokan BBM.
“Aturan terkait cadangan operasional sudah diterbitkan di tahun 2020 oleh BPH Migas dan mungkin perlu disesuaikan dengan kondisi yang ada sekarang,” pungkasnya.