Pemerintah terus mempercepat pengembangan energi alternatif berbasis domestik untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM). Melalui implementasi biodiesel B40, rencana peningkatan ke B50, serta penguatan sinergi sektor hulu dan hilir migas, kebutuhan energi masyarakat diharapkan tetap terjaga secara berkelanjutan di tengah dinamika energi global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan Pemerintah terus mencari solusi alternatif di tengah tantangan produksi migas nasional yang belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan konsumsi energi dalam negeri.
“Kami bersyukur bahwa dalam kondisi seperti ini atas arahan Bapak Presiden harus segera mencari alternatif-alternatif energi lain yang tidak hanya mengedepankan BBM yang bersumber dari fosil, ketika lifting kita tidak tercapai maka harus ada cara lain yang kita harus lakukan,” ujarnya saat membuka Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 di Tangerang, Banten (20/5/2026).
Menurut Bahlil, implementasi program B40 dan rencana peningkatan ke B50 mulai Juli 2026 menjadi bagian penting dari strategi Pemerintah dalam mengurangi impor BBM. Kebijakan tersebut juga dinilai mampu meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri melalui pemanfaatan CPO.
“Dari 1 juta barrel per day yang kita harus impor, terkonversi atau tersubstitusi dengan kita memakai B40, dan sekarang kita akan dorong 1 Juli B50 dan itu kita mampu mengonversi ke CPO-nya. Itu kurang lebih sekitar 200-300 ribu barrel per day. Jadi kita impor kurang lebih sekitar 600-700 ribu barrel per day sisanya kita ambil dari CPO. Alhamdulillah, di tahun 2026 kita tidak lagi melakukan impor solar terkecuali solar yang mempunyai kualitas tinggi seperti C51,” tuturnya.
Penguatan ketahanan energi nasional juga didukung dari sisi hilir migas. Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas menekankan pentingnya kolaborasi sektor hulu dan hilir migas dalam memastikan energi dapat tersalurkan hingga ke masyarakat.

“Penting dipahami oleh masyarakat, bahwa proses hulu migas membutuhkan investasi besar, berada di wilayah terpencil dengan risiko tinggi, sehingga perlu dukungan bersama baik sisi hulu maupun hilir migas, agar energi dapat terus tersedia bagi masyarakat,” ucapnya di acara di IPA Convex 2026.
Menurut Wahyudi, kehadiran BPH Migas pada IPA Convex 2026 juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai tata kelola hilir migas, mulai dari penyediaan dan pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM), penerapan Surat Rekomendasi BBM melalui aplikasi XStar, hingga pemanfaatan jaringan gas bumi (jargas) bagi rumah tangga dan pelanggan kecil.
“Kami turut mendukung program Pemerintah dalam menyiapkan swasembada energi nasional, dan memastikan kebutuhan energi masyarakat berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Wahyudi juga mengajak masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak dan wajar agar ketersediaan energi tetap terjaga serta dapat dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. “Mari kita sama-sama menjaga dan menggunakan energi secara bijak dan wajar, agar Pemerintah dapat terus menyiapkan energi secara baik, sesuai dengan kebutuhan setiap harinya di masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Presiden IPA Kathy Wu menyampaikan, pihaknya siap terus berkolaborasi dengan Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung ketahanan energi nasional melalui investasi jangka panjang di sektor migas.
Turut hadir dalam kegiatan ini, Anggota Komite BPH Migas Arief Wardono, Bambang Hermanto, Baskara Agung Wibawa, Eman Salman Arief, Erika Retnowati, Harya Adityawarman, dan Hasbi Anshory. Hadir juga Sekretaris BPH Migas Patuan Alfon S., Direktur BBM BPH Migas Chrisnawan Anditya, Direktur Gas Bumi BPH Migas Muhiddin.