Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mendampingi Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dalam Kunjungan Kerja Spesifik ke Jawa Timur.
Kunjungan kerja tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi kondisi pasokan dan pemanfaatan gas bumi serta kesiapan Badan Usaha sektor energi dalam menghadapi kondisi darurat.
“Kunjungan ini ditujukan untuk memastikan pasokan gas yang ada di Jawa Timur berjalan dengan baik. Kemudian juga pasokan energi lainnya karena mitra kerja juga turut hadir, tidak hanya Pertamina tetapi juga PLN,” jelas Anggota Komite BPH Migas Baskara Agung Wibawa di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (21/8/2026).
Baskara menyampaikan, kondisi pasokan dan penyaluran gas bumi di Jawa Timur relatif stabil dari tahun ke tahun. Dari sisi pemanfaatan, sektor komersial menjadi pengguna gas terbesar dengan porsi sekitar 45 persen dari total realisasi volume, disusul sektor industri sebesar 38 persen.
Sementara itu, pemanfaatan gas bumi untuk sektor kelistrikan mencapai sekitar 16 persen dan CNG sekitar 1 persen. Komposisi tersebut menunjukkan kebutuhan gas di Jawa Timur masih banyak ditopang sektor komersial dan industri.

Dari sisi infrastruktur, jaringan gas bumi di Jawa Timur mendukung penyaluran kepada konsumen. Panjang pipa distribusi tercatat sekitar 1,4 juta kilometer, sedangkan jaringan pipa transmisi mencapai 813 kilometer.
“Dari sisi utilisasi, kapasitas pipa pengangkutan gas di Jawa Timur itu utilisasinya masih memungkinkan untuk ditingkatkan. Namun, tetap bergantung pada ketersediaan pasokan gas yang ada,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, BPH Migas bersama Komisi XII DPR RI juga mengevaluasi kesiapan dan kinerja tim tanggap darurat badan usaha sektor energi dalam penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tim tanggap darurat Pertamina dan PLN dinilai bekerja cepat dan responsif dalam menangani kondisi bencana.
“Alhamdulillah hasilnya semuanya baik. Tim dari PLN maupun tim dari Pertamina mendapat apresiasi dari DPR karena bekerja sangat cepat dan responsif untuk menangani bencana tersebut,” imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno mengatakan, tantangan sektor migas saat ini terletak pada kemampuan meningkatkan produksi, terutama minyak mentah dan gas.
“Kebutuhan gas sangat tinggi untuk sektor kelistrikan, industri, dan rumah tangga. Oleh karena itu, kami ikut mendorong agar ada peningkatan lifting sehingga kebutuhan tersebut dapat dipenuhi,” ujarnya.
Menurut Eddy, gas memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi karena dinilai lebih bersih dibandingkan sejumlah sumber energi fosil lainnya. Karena itu, pemanfaatan gas bumi perlu diperkuat bersamaan dengan pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
Turut hadir dalam kunjungan spesifik tersebut, Anggota Komisi XII DPR RI Arief R Uopdana, Ratna Juwita Sari, Jamaludin Malik, Ramson Siagian, N. M. Dipo Nusantara, Ateng Sutisna, Hasani bin Zuber, Rakhmat Arsiyan, Gulam Mohamad Sharon, dan Meitri Citra Wardani. Selain itu, hadir juga Direktur Gas Bumi BPH Migas Muhiddin dan Direktur Pembinaan Program Migas Direktorat Jenderal Migas, Kementerian ESDM Hendra Gunawan, serta perwakilan Badan Usaha.